Minggu, 06 November 2016

Video Robotic (Agent And Performance)

(Julianti 15114730, Mochamad Rere Ulul 16114701, Gusti Maulana 1D114120)

PEAS
P (performance measure) : komponen keberhasilan si agent
E (environment) : kodisi di sekitar agent
A (actuators) : segala sesuatu yang dapat dilakukan si agent
S (sensors) : segala sesuatu yang menjadi input si agent
Contohnya yaitu robot yang melakukan penalty kick.

1. Performance Measure :
  - Ketepatan mengikuti perintah
  - Ketepatan melakukan perintah
  - Kecepatan kerja

2. Environment :
  - Gawang
  - Bola
  - Operator (lawannya)

3. Actuator :
  - Menendang Bola
  - Menjaga gawang
  - Bersalaman

4. Sensor :
  - Kamera `
  - Kaki`
  - Tangan
  - Mata
  - Kelenturan tubuhnya

Video robot ASIMO yang melakukan penalty kick:

http://maisarohmae23.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-peas-dan-cara-kerja-jenis.html
https://www.youtube.com/watch?v=QdQL11uWWcI

Pengolahan Teknologi Sistem Cerdas

Sabtu, 15 Oktober 2016

Metode Pencarian dan Pelacakan

Julianti 15114730, Mochamad Rere Ulul 16114701, Gusti Maulana 1D114120
Metode pencarian buta (blind search)

         - breadth-first search (bfs) melakukan proses searching pada semua node yang berada pada level atau hirarki yang sama terlebih dahulu sebelum melanjutkan proses searching pada node di level berikutnya.   

breadth-first search adalah algoritma yang melakukan pencarian secara melebar yang mengunjungi simpul secara preorder yaitu mengunjungi suatu simpul kemudian mengunjungi semua simpul yang bertetangga dengan simpul tersebut terlebih dahulu. Selanjutnya, simpul yang belum dikunjungi dan bertetangga dengan simpulsimpul yang tadi dikunjungi , demikian seterusnya. Jika graf berbentuk pohon berakar, maka semua simpul pada aras d dikunjungi lebih dahulu sebelum simpul-simpul pada ras d+1.   

algoritma ini memerlukan sebuah antrian q untuk menyimpan simpul yang telah dikunjungi. Simpulsimpul ini diperlukan sebagai acuan untuk mengunjungi simpul-simpul yang bertetanggaan dengannya. Tiap simpul yang telah dikunjungu masuk ke dalam antrian hanya satu kali. Algoritma ini juga membutuhkan table boolean untuk menyimpan simpul yang te lah dikunjungi sehingga tidak ada simpul yang dikunjungi lebih dari satu kali.             

- depth-first search (dfs) adalah proses searching sistematis buta yang melakukan ekpansi sebuah path (jalur) menuju penyelesaian masalah sebelum melakukan ekplorasi terhadap path yang lain. Proses searching mengikuti sebuah path tunggal sampai menemukan goal atau dead end. Apabila proses searching menemukan dead-end, dfs akan melakukan penelusuran balik ke node terakhir untuk melihat apakah node tersebut memiliki path cabang yang belum dieksplorasi. Apabila cabang ditemukan, dfs akan melakukan cabang tersebut. Apabila sudah tidak ada lagi cabang yang dapat dieksplorasi, dfs akan kembali ke node parent dan melakukan proses searching terhadap cabang yang belum dieksplorasi dari node parent sampai menemukan penyelesaian masalah.
     
Metode pencarian heuristik     

1. Pembangkitan dan pengujian (generate and test)
   
metode ini merupakan penggabungan antara depth-first search dengan pelacakan mundur (backtracking), yaitu bergerak ke belakang menuju pada suatu keadaan awal.
      
2. Pendakian bukit (hill climbing)
   
metode ini hampir sama dengan metode pembangkitan dan pengujian, hanya saja proses pengujian dilakukan dengan menggunakan fungsi heuristic. Pembangkitan keadaan berikutnya tergantung pada feedback dari prosedur pengetesan. Tes yang berupa fungsi heuristic ini akan menunjukkan seberapa baiknya nilai terkaan yang diambil terhadap keadaan-keadaan lainnyayang mungkin.

Senin, 11 April 2016

TUGAS 2 SOFTSKILL "MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI



Business Relationship Management

Manajemen hubungan bisnis (BRM) adalah pendekatan formal untuk pemahaman, mendefinisikan, dan mendukung kegiatan antar-usaha yang terkait dengan jaringan bisnis .
Manajemen hubungan bisnis terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan perilaku (atau kompetensi) yang membina hubungan yang produktif antara organisasi jasa (misalnya Sumber Daya Manusia , teknologi informasi , departemen keuangan, atau penyedia eksternal) dan mitra bisnis mereka.

Tujuan dari BRM diimplementasikan melalui peran organisasi, disiplin, dan kemampuan organisasi. MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI.

  1. Sebagai suatu disiplin Disiplin BRM adalah penelitian berbasis dan telah diverifikasi dan ditingkatkan untuk lebih dari satu dekade. Hal ini digunakan dalam organisasi di seluruh dunia dan berlaku efektif untuk layanan bersama, penyedia layanan eksternal dan lain-lain. Tujuan dari disiplin adalah untuk memungkinkan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan, mengevaluasi, dan menggunakan hubungan jaringan bernilai tinggi.
  2. Sebagai peran organisasi The BRM peran organisasi adalah hubungan antara penyedia layanan dan bisnis. Peran bertindak sebagai penghubung, orkestra, dan navigator antara penyedia layanan dan satu atau unit bisnis yang lebih.
  3. Sebagai model Salah satu tujuan dari BRM adalah untuk menyediakan model lengkap hubungan bisnis dan nilai mereka dari waktu ke waktu, untuk membuat berbagai aspek mereka baik eksplisit dan terukur. Sebuah model BRM dewasa pada akhirnya akan mendukung bisnis strategis penelitian dan pengembangan usaha serta alat-alat dan teknik yang menerapkan prinsip-prinsip BRM.

Prinsip dari BRM adalah sebagai berikut

  1. Pengukuran dan analisis Tujuan BRM mengharuskan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dapat diidentifikasi dan diukur. Mengingat model, seseorang harus mampu mengidentifikasi hubungan bisnis yang mereka terlibat dalam, dan mengukur mereka dalam hal seperti kuantitas atau durasi. Hal yang sama berlaku untuk setiap aspek BRM, seperti jenis, peran, atau prinsip. Setiap hubungan bisnis memiliki tujuan yang memerlukan partisipasi dari peran ganda untuk mencapai. Tujuan dari hubungan bisnis yang diberikan adalah diskrit dan terukur.
  2. Reputasi dan kepercayaanModel BRM harus berusaha untuk model dan mengukur reputasi dan kepercayaan. Setiap hubungan, dan setiap interaksi di dalamnya, memberikan kontribusi untuk reputasi. Reputasi meringankan risiko dan mengurangi gesekan dalam proses bisnis.Kepedulian untuk reputasi incentivizes perilaku yang baik. Tidak adanya kepercayaan akan menyebabkan hubungan bisnis untuk gagal. Kepercayaan meningkatkan efisiensi dan memungkinkan resolusi konflik. Hubungan antara kepercayaan sebagai konsep inti tradisional dan dalam bentuk yang muncul 'radikal' sebagai komponen dari komunitas online harus dijelaskan.
  3. Governance Model BRM perlu memperhitungkan dan menyelaraskan dengan model tata kelola perusahaan , termasuk etika bisnis , kendala hukum, dan norma-norma sosial yang berlaku untuk hubungan bisnis.
  4. Batas
    Model BRM harus menentukan batas-batas hubungan bisnis dalam kontinum yang lebih besar dari hubungan interpersonal. Selain isu-isu pemerintahan, model harus memeriksa jika ada tingkat optimal dari hubungan pribadi, dan apakah mereka berbeda berdasarkan jenis, peran, atau atribut lainnya. model harus membantu menentukan batas-batas yang mengoptimalkan efektivitas sementara mendukung tata kelola yang baik.
  5. Pertukaran dan timbal balikModel BRM pertukaran dan timbal balik harus memperluas dimensi tradisional untuk akun untuk tidak hanya pertukaran keuangan, tetapi juga pertukaran waktu, uang, pengetahuan, dan reputasi. Ini adalah fitur kunci dari hubungan bisnis.
Adapun Peranan.

  • Bisnis Relationship Manager - Proses Owner
Bisnis Relationship Manager bertanggung jawab untuk menjaga hubungan positif dengan pelanggan, mengidentifikasi kebutuhan pelanggan dan memastikan bahwa penyedia layanan dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan katalog yang tepat dari layanan. Bisnis Relationship Manager bekerja sama dengan Service Level Manager.

  • Pelanggan
·         Seseorang yang membeli layanan TI. Nasabah dari penyedia layanan TI adalah orang atau kelompok yang mendefinisikan dan setuju target tingkat layanan.


Manajemen Keuangan Untuk Layanan TI



1. Pengertian Manajemen Keuangan
Setelah memahami arti dari manajemen, untuk selanjutnya pembahasan akan difokuskan pada Manajemen Keuangan. Menurut  James Van Horne : Manajemen Keuangan adalah segala aktivitas yang berhubungan dengan perolehan, pendanaan dan pengelolaan aktiva dengan tujuan menyeluruh. J. L. Massie mendifinisikan Manajemen keuangan sebagai kegiatan operasional bisnis yang bertanggung jawab untuk memperoleh dan menggunakan dana yang diperlukan untuk sebuah operasi yang efektif dan efisien, sedangkan Howard & Upton  menyebutkan Manajemen keuangan adalah penerapan fungsi perencanaan & pengendalian fungsi keuangan. Sementara itu, menururt  Bambang Riyanto (2001:4), Manajemen Keuangan  adalah keseluruhan aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha mendapatkan dana yang diperlukan dengan biaya yang minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungki.

2. Tujuan Manajemen Keuangan
Pada dasarnya tujuan manajemen keuangan (The Main Objective of Financial Management) adalah memaksimumkan nilai perusahaan atau memaksimumkan kemakmuran pemegang saham, bukan memaksimumkan profit. Arti memaksimumkan profit, berarti mengabaikan tanggung jawab sosial, mengabaikan risiko, dan berorientasi jangka pendek, sedangkan arti memaksimumkan kemakmuran pemegang saham atau nilai perusahaan dapat diartikan sebagai berikut:
  • Memaksimumkan nilai sekarang (present value) semua keuntungan di masa datang yang akan diterima oleh pemilik perusahaan.
  • Lebih menekankan pada aliran hasil bukan sekedar laba bersih dalam pengertian akuntansi.
Peran Teknologi Informasi termasuk didalamnya komputer diyakini mampu meningkatkan produktivitas kerja dengan tingkat akurasi yang tinggi, kecepatan dan kemudahan. Penggunaan aplikasi komputer yang merupakan ringkasan Sistem Informasi Manajemen kini banyak diterapkan di kantor-kantor pemerintah maupun swasta dengan sistem database yang kompleks dan terintegrasi sehingga peningkatatan produktivitas kerja pegawai meningkat sangat signifikan.

Layanan Teknologi Informasi Manajemen Kontinuitas

Tujuan
Memastikan bahwa infrastruktur TI dan layanan TI dapat dikembalikan dalam batas waktu yang ditentukan setelah bencana. 
  • Mendukung manajemen kelangsungan bisnis secara keseluruhan (BCM).
  • Didefinisikan berdasarkan tujuan bisnis.
Konsep
Bencana merupakan peristiwa yang mempengaruhi layanan atau sistem. Bisnis terganggu dan upaya yang signifikan diperlukan untuk mengembalikan tingkat kinerja asli.

Manajemen Business Continuity
Proses ini membahas tujuan bisnis. Ini analisis dan mengelola risiko:
  • mengurangi risiko ke tingkat yang dapat diterima.
  • mengembangkan rencana untuk memulihkan kegiatan usaha dalam kasus bencana.
ITSCM

Ini adalah proses yang berhubungan dengan bencana berdampak layanan TI. Ia memelihara layanan untuk memungkinkan bisnis untuk terus beroperasi jika terjadi bencana.

ITSCM Aktivitas
  1. Inisiasi mendefinisikan kebijakan, ruang lingkup, mengalokasikan sumber daya dan mendirikan organisasi proyek.
  2. Persyaratan dan strategi akan perlu didefinisikan. 
  • Sebuah analisis dampak bisnis (BIA) harus dilakukan.
  • analisis layanan juga harus dilakukan. ini akan menganalisis layanan TI penting berdasarkan SLA. Dependensi harus dinilai juga.
  • Risiko yang mempengaruhi bisnis maka harus dianalisis. Manajer ITSC juga harus mengidentifikasi ancaman dan kerentanan.
  • Strategi ITSCM kemudian harus didefinisikan. Strategi ini dapat mengurangi risiko atau perencanaan pemulihan.
  1. Langkah berikutnya adalah untuk melaksanakan rencana tersebut. Ini termasuk menyiapkan organisasi, mengembangkan rencana dan mengujinya.
  2. Manajemen operasi membutuhkan pelatihan staf non-TI pada DRP. Hal ini membutuhkan tinjauan rutin dan pengujian. Perbaikan atau perubahan harus melalui proses perubahan manajemen.
Manajemen keamanan Informasi dan Manajemen Akses

Kebijakan Keamanan Informasi (Information Security Policy)

Tujuan kebijakan keamanan informasi adalah untuk memberikan arahan dan dukungan manajemen keamanan informasi. Manajemen harus menetapkan arah kebijakan yang jelas dan menunjukkan dukungan, serta komitmen terhadap keamanan informasi melalui peerapan dan pemeliharaan suatu kebijakan keamanan informasi di seluruh tatanan organisasi.

Kebijakan Keamanan Informasi meliputi :
Dokumen Kebijakan Keamanan Informasi (Information security policy document)
Kontrol yang seharusnya dipenuhi adalah dokumen kebijakan keamanan informasi harus disetujui oleh manajemen, dipublikasikan dan disosialisasikan dengan baik kepada seluruh pegawai. Di dalam dokumen kebijakan tersebut harus ada pernyataan komitmen manajemen dan pendekatan organisasi dalam mengelola keamanan informasi.


Fasilitas Manajemen - Kontrol Akses Fisik
Fasilitas Manajemen keamanan informasi adalah Aktivitas untuk menjaga agar sumberdaya informasi tetap aman . Manajemen keamanan informasi terdiri atas empat tahap, yaitu:
  1. Mengimplementasikan pengendalian untuk mengatasi resiko resiko tersebut.
  2. Mendefinisikan resiko yang disebabkan oleh ancaman.
  3. Menentukan kebijakan keamanan informasi.
  4. Mengidentifikasi ancaman yang dapat menyerang sumber informasi perusahaan
Akses kontrol secara fisik biasanya diberikan pada petugas khusus seperti penjaga keamanan. Umumnya ada pagar atau pintu untuk menghindari akses kontrol fisik dari pihak yang tidak berkepentingan.

Sumber:


Minggu, 20 Maret 2016

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI



SECTION 1

Bagaimana memahami manajemen layanan? Manajemen Layanan TI atau manajemen layanan dukungan TI service management or IT service support management (ITSM atau ITSSM) yang pada pelaksanaan dan pengelolaan kualitas layanan TI yang memenuhi kebutuhan bisnis. Layanan manajemen TI dilakukan oleh penyedia layanan TI melalui kombinasi yang tepat dari teknologi, manusia, proses dan informasi.

Kenapa sangat penting untuk perusahaan?
Persaingan  di  antara  perusahaan-perusahaan  pada  saat ini  telah  menjadi sangat  berorientasi  terhadap IT,  sehingga  menyebabkan  perusahaan harus  memiliki berbagai  standar  kualitas  untuk  meningkatan proses  bisnis.  ITSM  (IT Service Management) merupakan  sumber  panduan praktis untuk dijadikan sebagai standar kualitas agar terciptanya perbaikan proses pada perusahaan.

Bagaimana manajemen layanan dapat membantu penyediaan layanan untuk memberikan dan mengelola layanan ini?

  • Memastikan kinerja penyedia layanan berada dalam batas-batas yang ditentukan dan disepakati.
  • Pencegahan pelanggaran SLA/Service Level Agreement.
  • Identifikasi dan pemantuan Indikator Utama Kinerja (Key Performance Indicators or KPI)
  • Penyediaan informasi kepada fungsi desain layanan untuk memungkinkan peningkatan kualitas pelayanan.



ITIL (Information Technology Infrastructure Library) 

adalah suatu rangkaian konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI).



IT Infrastructure Library (ITIL) merupakan standar yang dikeluarkan pemerintah United Kingdom (UK) sebagai kerangka kerja yang diacu oleh best practice proses dan prosedur manajemen operasional. Lebih spesifik, ITIL terutama memfokuskan terhadap pendefinisian fungsi, operasional dan atribut organisasi yang diperlukan agar manajemen operasional dapat dioptimasi secara penuh ke dalam dua kategori utama pengelolaan Aktivitas TI dalam perusahaan yaitu: Service Support Management dan Service Delivery Management. Ada 2 komponen ITIL, yaitu :

  1. Service Support, yaitu aktifitas yang dilaksanakan minimal setiap hari.
  2. Service Delivery, yaitu aktivitas yang dilaksanakan minimal setahun/kuartal/bulanan.



Tujuan ITIL

adalah untuk menyediakan petunjuk untuk praktek terbaik dalam manajemen layanan teknologi informasi. Ini mencakup pilihan yang dapat diapdopsi dan diadaptasi oleh organisasi berdasarkan kebutuhan bisnisnya, keadaan, dan kedewasaan dari penyedia layanan.



Pada 30 Juni 2007, OGC menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:



1. Service Strategy

Ini merupakan inti dari ITIL Service Life Cycle yang memberikan panduan kepada pengimplementasian ITSM . Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar konsep ITSM, acuan, serta proses-proses inti.

Proses di dalamnya yaitu:

  • Service Portofolio Management
  • Financial Management
  • Demand Management

2. Service Design

Agar layanan TI dapat memberikan manfaat pada bisnis, layanan TI harus terlebih dahulu didesain dengan tujuan bisnis dari pelanggannya. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk bisa secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI.

Proses di dalamnya yaitu:

  • Service Catalog Management
  • Service Level Management
  • Supplier Management
  • Capacity Management
  • Availability Management
  • IT Service Countinuity Management
  • Information Security Management

3. Service Transition

Menyediakan panduan kepada organisasi TI agar dapat mengembangkan kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI. Tahapan ini menggambarkan bagaimana sebuah kebutuhan didefinisikan dalam Service Strategy, lalu dibentuk dalam Service Design dan selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation

Proses di dalamnya yaitu:

  • Transation Planning and Support
  • Change Management
  • Service Assset and Configuration Management
  • Release and Deployment Management
  • Service Validation
  • Evaluation
  • Knowledge Management

4. Service Operational

Ini adalah tahapan life cycle yang mencakup semua kegiatan operasional layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat beberapa panduan-panduan untuk mengelola layanan TI secara efisien.

Proses di dalamnya:

  • Event Management
  • Incident Management
  • Problem Management
  • Request Fulfillment
  • Access Management

5. Continual Service Improvement (CSI)

memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya.



SECTION 2



Strategi Layanan

adalah tahap pertama dari ITIL Service Management Lifecycle. Ini adalah poros di mana siklus berputar. Fase ini digunakan untuk menetapkan strategi keseluruhan untuk layanan TI yang direncanakan organisasi dan manajemen layanan (ITSM) praktek. Ini memuncak dalam rencana strategis yang menentukan bagaimana layanan TI yang direncanakan organisasi dan kebijakan dan proses ITSM akan digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Layanan Strategi fase membantu memastikan bahwa organisasi siap untuk mengelola biaya dan risiko yang terkait dengan memulai layanan-layanan baru.



Jenis penyediaan layanan TI

  • Tipe I: ada dalam sebuah organisasi semata‐mata untuk memberikan layanan kepada satu khusus unit bisnis
  • Tipe II: melayani beberapa unit bisnis dalam organisasi yang sama
  • Tipe III: beroperasi sebagai penyedia layanan eksternal melayani beberapa pelanggan eksternal.

Empat strategi P, yaitu :

  1. Strategi adalah Perencanaan ( Plan )Konsep strategi tidak lepas dari aspek perencanaan, arahan atau acuan gerak langkah organisasi untuk mencapai suatu tujuan di masa depan. Strategi tidak selamanya merupakan perencanaan ke masa depan yang belum dilaksanakan, akan tetapi strategi juga menyangkut segala sesuatu yang telah dilakukan dimasa lampau, misalnya pola perilaku bisnis yang telah dilakukan dimasa lampau.
  2. Strategi adalah Pola ( Pattern )Menurut Mintzberg, strategi adalah pola ( Strategy is Pattern )yang selanjutnya disebut sebagai “  intended strategy “, karena belum terlaksana dan berorientasi ke masa depan. Atau disebut juga “ Realized Strategy “ karena telah dilakukan oleh organisasi.
  3. Strategi adalah Posisi ( Potition )Strategy is Potition, yaitu menempatkan produk tertentu ke pasar tertentu yang dituju. Strateg sebagai posisi menurut Mintzberg cenderung melihat ke bawah, yaitu ke suatu titik bidik dimana produk tertentu bertemu dengan pelanggan, dan melihat keluar yaitu meninjau berbagai aspek lingkungan eksternal.
  4. Strategi adalah Perspektif ( Perspective )Jika dalam P ke dua dan P ke tiga cenderung melihat ke bawah dan ke luar, maka sebaliknya dalam perpekstif cenderung lebih melihat ke dalam yaitu ke dalam organisasi dan ke atas yaitu melihat grand vision dari perusahaan atau organisasi.

Manajemen Layanan sebagai Aset Strategis

Penggunaan ITIL untuk mengubah kemampuan manajemen layanan menjadi aset strategis, dengan menggunakan Manajemen Layanan untuk memberikan dasar bagi kompetensi inti, kinerja khusus dan keuntungan tahan lama, serta meningkatkan potensi penyedia layanan dari:

  • Kapabilitas: kemampuan penyedia layanan (dalam hal manajemen, organisasi proses, pengetahuan dan orang‐orang) untuk mengkoordinasikan, mengendalikan dan menyebarkan sumber daya.
  • Sumber daya: masukan langsung untuk memproduksi layanan, misalnya keuangan, modal, infrastruktur, aplikasi, informasi dan orang‐orang.

SECTION 3



Design layanan/Service Design

adalah tahapan dimana ManajemenLayanan IT mulai memastikan rencana-rencana

layanan yang akan disediakan (dalam Service Portfolio) benar-benar sesuai kebutuhan pengguna, dan mendetailkannya menjadi arsitektur–arsitektur sistem/layanan, proses -proses, laporan, & dokumentasi.



Lima Aspek Utama Desain Layanan :

  1. Arsitektur teknologi dan sistem manajemen
  2. Proses, peran dan kemampuan
  3. Metode pengukuran dan satuan
  4. Solusi layanan baru atau perubahan
  5. Sistem manajemen layanan dan perangkatnya

Tujuan Desian Layanan

  • Memproduksi dan memelihara rencana-rencana TI, proses-proses, kebijakan (policies), arsitektur, kerangka kerja, dan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk proses desain
  • Membantu dalam membangun kebijakan (policies) dan standar-standar dalam desain dan perencanaan service TI
  • Mendesain proses yang efektif dan efisien
  • Mengidentifikasi dan mengelola resiko
  • Mendesain infrastruktur TI yang aman dan handal, lingkungan (environment), aplikasi, serta sumber daya dan kapabilitas data/informasi
  • Mendesain metode pengukuran dan metrik-metrik untuk menilai (assesing) proses desain
  • Mendesain service untuk memenuhi sasaran-sasaran bisnis
  • Mendesain service yang mudah untuk dibangun dengan efisien

SUMBER :